Selasa, Juli 28, 2026

IHDC Peringatkan Indonesia Hadapi Silent Cognitive Burden

Must Read

POPMARKET – Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi apa yang disebut sebagai ‘Silent Cognitive Burden, penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang berlangsung perlahan akibat masalah kesehatan yang selama ini belum menjadi perhatian utama kebijakan publik, yang bisa menjelma menjadi krisis kognitif anak Indonesia.

Temuan tersebut merupakan hasil kajian Community Diagnosis yang dilakukan IHDC yang dituangkan dalam Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4, yang dipimpin oleh Direktur Eksekutif IHDC Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.

Kajian ini dilakukan melalui melalui rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi dalam Expert Validation Meeting yang melibatkan pakar kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, dan kebijakan publik.

Kajian tersebut mengidentifikasi empat determinan kesehatan, memiliki hubungan ilmiah kuat terhadap perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah, yaitu gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.

Dari sejumlah data diketahui determinan gangguan penglihatan dialami lebih dari 8 Juta anak Indonesia bila dihitung dari analisis estimasi studi IHDC, begitupun dengan gangguan defisiensi besi yang diperkirakan dialami lebih dari 7 Juta balita. Bahkan gangguan perilaku cemas menurut dataKemenkes dialami lebih dari 300 ribu anak usia sekolah.

Menurut Ketua Dewan Pembina IHDC dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2014-2019, Prof. Nila F Moeloek, keempat masalah tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengurangi kemampuan belajar, memori kerja, perhatian, kreativitas, hingga kapasitas membangun cita-cita dan inovasi.

“Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional,” ujar Nila F Moeloek.

“Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan,” sambung dia.

Kajian IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kapasitas neurokognitif yang memungkinkan seorang anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, dan membangun orientasi masa depan.

Menurut Direktur Eksekutif IHDC Dr. Ray Wagiu Basrowi, paradigma pembangunan anak perlu bergeser dari sekadar mencegah penyakit menuju membangun kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.

“Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya,” ungkap Dr Ray yang juga merupakan pendiri Health Collaborative Center (HCC) ini.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Article

Di Usia 10 Tahun, Muhammad Fadil Abbas Wibowo Juara ACI Karting Championship Italia 2026

POPMARKET - Dunia balap gokart Eropa dibuat tercengang. Pembalap cilik Indonesia, Muhammad Fadil Abbas Wibowo, sukses mencetak sejarah dengan...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_imgspot_img