POPMARKET –Â Matematika tak melulu soal angka dan rumus. Di The Genius Math League 2026, kemampuan berpikir cepat, ketelitian, dan strategi menjadi bagian dari persaingan yang membawa peserta dari berbagai usia ke babak grand final di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Jumat (23/10/2026).
Digelar oleh TechConnect dengan total hadiah mencapai Rp1 miliar, kompetisi ini memberi ruang bagi peserta dari beragam jenjang pendidikan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Format pertandingan dibagi menjadi kategori individu dan beregu, sehingga peserta dapat menguji kemampuan personal sekaligus belajar bekerja sama.
Pada kategori Individual Championship, para peserta menghadapi The Immortal Seven, The Genius Grid, dan The Final Countdown. Ketiga ronde tersebut menguji kemampuan mengolah informasi, menentukan langkah, serta menyelesaikan soal secara tepat dalam waktu terbatas.
Sementara kategori Team Championship menghadirkan Trinity Rush, The Codebreakers, dan The Crown Clash. Dalam format beregu, kemampuan matematika perlu dipadukan dengan komunikasi dan strategi bersama agar tim dapat menghadapi tantangan secara efektif.
Persaingan kategori individu akhirnya dimenangkan Kent Marcello Cendekia dari SMP Kesatuan Bangsa, Yogyakarta. Lim, Jovan Valencio dari SMA Karangturi, Semarang, menempati posisi kedua, disusul Harrison Matthew Tanuwijaya dari SMAK 3 Penabur Jakarta di posisi ketiga.
Untuk kategori beregu, Regional Semarang berhasil menjadi juara pertama. Tim ini terdiri dari Steven Endrajaya, Lim, Jovan Valencio, dan Nada Jenna Sasmaya. Regional Tangerang menempati posisi kedua, sedangkan Regional Yogyakarta meraih posisi ketiga.
Tak hanya mencari pemenang utama, panitia juga memberikan penghargaan favorit. Peter Euan Ridjab dari SMP Kolese Kanisius, Bandung, terpilih sebagai Individu Favorit. Sementara Regional Surabaya yang diperkuat Mohammad Rozi Badrus, Geofrey Alexander Chandra, dan Ethan Mark Jusuf mendapatkan gelar Tim Favorit.
Bagi Kent, kemenangan tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus dorongan untuk terus belajar. Ia mengatakan tantangan dalam kompetisi mengharuskannya berpikir cepat tanpa kehilangan ketelitian ketika mengerjakan soal.
Pengalaman mengikuti kompetisi juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peserta lain untuk terus mengasah kemampuan. Semangat itu sejalan dengan harapan Henny, ibunda Harrison Matthew Tanuwijaya, yang mengapresiasi pencapaian putranya sebagai salah satu pemenang.
Henny mendorong anak-anak Indonesia agar terus berusaha, termasuk dengan memanfaatkan buku pelajaran, internet, dan perkembangan teknologi untuk memperluas pengetahuan. Menurutnya, kemauan untuk belajar menjadi salah satu modal penting untuk meraih kemajuan.
Suasana grand final juga dilengkapi sesi Math & Greet, yang mempertemukan peserta dan pengunjung dengan para finalis. Acara kemudian berlanjut ke Math Awarding Session untuk memberikan penghargaan kepada para pemenang.
Lewat The Genius Math League 2026, matematika diperkenalkan sebagai latihan untuk membangun pola pikir terstruktur, mengenali pola, menganalisis informasi, dan mencari solusi. Keterampilan ini tidak hanya bermanfaat di ruang kelas, tetapi juga relevan untuk menghadapi perkembangan teknologi dan berbagai tantangan di masa depan.
Dengan mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang, kompetisi ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar, persaingan sehat, dan kepercayaan diri generasi muda untuk mengembangkan potensi mereka.





