POPMARKET – Ada waktu ketika suasana dapur mulai terasa paling hidup kala lingkungan sekitarnya terlelap, seperti yang terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Antara pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari, justru menjadi momen ketika perhatian terbesar diberikan.
Para relawan justru aktif berkarya. Panci-panci besar itu menguapkan aroma hangat nan harum yang memenuhi ruangan. Relawan juga memeriksa warna sayuran dengan penuh fokus dan sikap penuh kehati-hatian. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
“Kalau masak untuk anak-anak, kita tidak boleh main feeling. Harus yakin,” ucap seorang relawan yang tengah sibuk menyiapkan menu makanan bergizi.
Hanya ada denting alat masak dan derap langkah kaki para relawan tanpa kebisingan.
Seorang Asisten Lapangan sempat tersenyum tipis sembari berucap “Ini ritme kami tiap hari. Kalau buru-buru justru cepat habis tenaga,” kata dia.
Malam bergerak perlahan, tetapi pekerjaan dan tanggung jawab tidak bisa menunggu. Melalui dapur kecil itu, pada dini hari menjadi penentuan suatu keputusan untuk memastikan kualitas makanan.
Menjelang dini hari, seluruh masakan telah masak, siap dan sesuai harapan. Proses pembagian sesuai porsi pun dimulai. Karbohidrat, sayur, dan protein dengan takaran seragam, sebuah ritual yang dilakukan berulang setiap hari.
Satu per satu ompreng terisi penuh, makanan sudah siap untuk diberikan kepada penerima manfaat. Ketika cahaya subuh muncul, suasana dapur perlahan berubah. Relawan mulai menurunkan tempo kerja, mengganti pisau dengan kain lap untuk membersihkan meja.
Peralatan masak lainnya juga dicuci bersih, kemudian disimpan rapi. Setiap sudutnya dipastikan bersih sebelum makanan bergizi mulai diantarkan.
Kepala SPPG, Adi Prabowo yang turut mengawasi aktivitas relawan di dapur menutup kegiatan itu dengan kalimat singkat.
“Yang penting paginya lancar. Kalau anak-anak makan dengan tenang, kerja malam ini terbayar sudah,” ucapnya.




