Jumat, April 17, 2026

Kelas Menengah Indonesia Melorot, Mereka Berkontribusi Terhadap 80% Konsumsi

Must Read

POPMARKET – Indonesia kehilangan 4% kelas menengah meskipun mereka berkontribusi terhadap 80% konsumsi.

Untuk sektor riil di ritel, pertumbuhan ekonomi 5% tidak cukup mendukung perputaran perdagangan, apalagi ditambah inflasi yang tinggi sejak 2022. 

Yongky Susilo, Retail & Consumer Strategist dalam paparannya berjudul “Market Outlook 2025: Ancaman dan Peluang” dalam acara Kopdar Kamajaya Business Club (KBC) Jakarta dan sekitarnya, mengatakan, fenomena “Mantab” yang terjadi di kelas bawah dan menengah sejak Q423, mengindikasikan daya beli yang melemah.

“Hal ini disebabkan inflasi barang konsumsi lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan.Kelas atas cenderung menahan pengeluaran, dan terus mengumpulkan tabungan sejak 2024,”ungkap Managing Director CRSC.

Yongky mengutip data Bank Dunia, BPS menyebut terjadi ledakan populasi kelas menengah sebesar 131 juta, tumbuh 7 juta per tahun 25% di tahun1999 dan meningkat 56,5% di tahun 2010.

Pertumbuhan penjualan sektor ritel dirasakan lemah sejak 2023 akibat kenaikan BBM, inflasi dan masa wait and see dampak Pemilu,” ungkap Yongky, beberapa waktu lalu di Jakarta.

“Jadi jika konsumsi masyarakat dan pengusaha melemah, ini akan berakibat langsung pada angka pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Yongky.

Meski begitu, Ia memaparkan data, bahwa di 2030 Indonesia berpeluang masuk dalam consumer boom kedua. Dimana GDP per kapita berpotensi meningkat dari 5.000 USD ke 10.000 USD, akibat peningkatan signifikan dari hilirisasi dan investasi tinggi dari luar atau dalam negeri.

“Era of plenty ini akan memberikan dampak besar akan terbentuknya kelas menengah yang baru, yang lebih tinggi daya belinya, yaitu kelas menengah yang tengah,” katanya serius.

Ia pun mengakui, Pemerintah telah fokus selama 10 tahun terakhir membangun infrastruktur untuk pertumbuhan Indonesia yang lebih tinggi.  Yaitu sektor energy, jalan tol, pelabuhan, Listrik, air, dan sebagainya. 

Namun menariknya, selama sepuluh tahun ini GDP per kapita Indonesia hanya bergerak dari 4.000 USD ke 5.000 USD. Sehingga mengakibatkan pelemahan kelas menengah, yang dulu terbentuk di era tahun 2000-2010.

Kelas menengah ini menuntut kenyamanan, berpendidikan dan kaum perempuan bekerja. Suka dengan kenyamanan ritel modern, produk dan layanan yang hemat dan memilih waktu makan di luar rumah yang hemat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Article

Ketua Asbanda: BPD Harus Jadi Orkestrator Keuangan Daerah, Bukan Sekadar Penyalur Dana

POPMARKET - Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda), Agus H. Widodo, menegaskan bahwa Bank Pembangunan Daerah (BPD) harus...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_imgspot_img