POPMARKET – Bayangkan dunia di mana teknologi bukan hanya tentang kecanggihan, tapi juga soal kemanusiaan. Di mana Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar membuat robot bisa berbicara, tapi juga membantu menyelesaikan masalah sosial.
Di mana Big Data bukan hanya angka-angka yang rumit, tapi bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Inilah Society 5.0, konsep yang dikembangkan Jepang sebagai lanjutan dari Revolusi Industri 4.0.
Bukan lagi cuma soal digitalisasi dan otomatisasi, Society 5.0 membawa visi lebih besar, yaitu bagaimana teknologi bisa benar-benar memberi dampak positif pada kehidupan manusia. Tapi pertanyaannya, Indonesia siap atau cuma jadi penonton?
Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tasikmalaya, punya pandangan menarik soal ini. Menurutnya, kalau generasi muda Indonesia ingin bersaing di era Society 5.0, mereka harus lebih dari sekadar paham teknologi.
Mereka harus melek digital, punya pola pikir kritis, kreatif, dan tetap memegang nilai-nilai kemanusiaan.
“Teknologi tanpa nilai kemanusiaan hanya akan menciptakan robot, bukan manusia. Masyarakat 5.0 itu tentang bagaimana teknologi membantu manusia, bukan menggantikannya,” ujar Bambang dalam wawancaranya, baru-baru ini.
Menurutnya, Indonesia harus segera beradaptasi. Negara-negara maju sudah jauh melangkah, dan kalau kita tidak sigap, kita hanya akan jadi konsumen, bukan inovator.
Menjawab tantangan itu, UBSI Kampus Tasikmalaya sudah mulai mengambil langkah nyata. Bukan hanya sibuk dengan teori di ruang kelas, tapi juga langsung terjun ke praktik teknologi modern.
Mulai dari kurikulum yang berbasis digital, proyek-proyek berbasis AI dan IoT, sampai seminar dan workshop yang melibatkan para praktisi industri—semuanya disiapkan agar mahasiswa nggak cuma paham teknologi, tapi juga tahu cara menggunakannya untuk kepentingan masyarakat.
“Mahasiswa perlu lebih dari sekadar tahu cara coding atau mengoperasikan software. Mereka harus bisa melihat masalah di sekitarnya dan berpikir, ‘Bagaimana teknologi bisa jadi solusinya?” tambah Bambang.
Di era Society 5.0, pilihannya cuma dua, diantaranya ikut bergerak dan jadi pemain, atau cuma duduk diam dan jadi penonton. Teknologi berkembang cepat, dan mereka yang nggak mau beradaptasi akan tertinggal jauh.
Bambang menutup dengan pesan optimis, dengan persiapan yang matang, generasi muda Indonesia nggak cuma bisa bersaing, tapi juga bisa jadi pemimpin dalam era Society 5.0. Dunia sedang berubah, dan inilah saatnya untuk ikut menciptakan perubahan—bukan hanya mengikuti arus.




